Air Kita Sudah Mati

15 03 2008

Beberapa waktu lalu, Dr. Ir. Indreswari Guritno, Msi, mengeluhkan kondisi air di Jakarta. “Banyak dari mereka sudah mati,” ujarnya.

“Mereka tak bergerak, bau, dan warnanya tak lagi jernih,” kata dosen senior di Fakultas Teknik Sipil Universitas Indonesia ini. Paling tidak ada tiga indikator bahwa air itu “hidup” alias bisa dimanfaatkan oleh makhluk hidup : tidak berbau, tidak berwarna dan bergerak.

Sungguh ironis. Padahal tanpa air bersih, banyak manusia dan makhluk hidup lainnya akan kehausan, kena penyakit, bahkan mati. Sementara itu, sumber kehidupan itu kini sedang terancam oleh pencemaran, kelangkaan air maupun bencana alam akibat dampak perubahan iklim. Pada pertengahan abad ini, diperkirakan sekitar 7 miliar orang di 60 negara akan menghadapi kelangkaan air.

Dan itu paling banyak dialami kaum tak mampu. Secara global, 1,1 miliar orang miskin kini kesulitan mengakses persediaan air bersih, dan 2,4 miliar bermasalah dengan sanitasi. Wouter T. Linklaen Arriens, ahli sumber daya air dari Asean Development Bank (ADB), juga mneyebut dua pertiga penduduk dunia akan kesulitan mendapat air pada 2025, dan lebih dari 1 miliar orang akan kekurangan air bersih. Di benua Asia saja, 40% penduduk miskin perkotaan belum mendapat layanan air ledeng. Hampir dua pertiga penduduk termiskin dunia tinggal di wilayah Asia dan Pasifik, dan suplai air bersih menjadi masalah sangat serius.

Dewan Air Dunia (WWC) juga menyebutkan, 20 tahun mendatang jumlah penduduk dunia akan meningkat dari enam miliar ke sekitar 7,2 miliar orang. Sedang persediaan air akan menurun hingga sepertiga dari sekarang. Artinya, penduduk dunia mungkin hanya akan dapat menikmati 30% supali air dari yang dapat mereka nikmati kini.

Pengelolaan sumber air dengan benar dan bijaksana adalah salah satu hal yang bisa mnyelamatkan sumber kehidupan itu. Kata Arriens, “Semua harus bekerja keras.” Pria dan wanita. Peran mereka sam pentingnya.

“Wanita bisa berperan sebagai ‘pelembut’ dalam pengelolaan air. Sehingga pengelolaan air tak lagi dianggap as an usual business. Pengelolaan air membutuhkan komitmen, tekad serta nurani. Dan perempuan memiliki sikap tersebut,” kata Arriens, yang lama mengelola air di beberapa negara.

Indreswari yang juga dikenal sebagai Koordinator Pengelola Ilmu Teknik Keairan dan Teknik Pantai di Universitas Indonesia ini sudah wanti-wanti mengingatkan agar semua pihak waspada dengan kondisi ini. “Mulailah dengan buang sampah pada tempatnya,” katanya. Selebihnya, kita juga harus sudah mulai mengurangi konsumsi barang pencipta sampah, misalnya makan seperlunya sehingga tak ada sampah yang terbuang. Biasakan juga menggunakan ulang benda-benda yang memang bisa di re-use, seperti memakai kembali kantong palstik yang sudah dipakai. Bisa juga melakukan teknik recycle seperti, seperti mendaur ulang sampah organik menjadi kompos, atau kantong detergen menjadi tas.
Bila kesadaran itu kita mulai sekarang, barangkali, tak bakal lagi ada jawaban air mati.
(idionline/KCM)


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: